Home / TENTANG / MUI: “Bad News Is Good News” Tidak Sesuai Dalam Islam

MUI: “Bad News Is Good News” Tidak Sesuai Dalam Islam

JAKARTA (Forijim) – Saat ini senjata yang paling efektif adalah media. Media dalam Islam tidak sekedar memberitakan sesuai kenyataan, tapi juga yang mengandung kebaikan. Demikian dikatakan Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Cholil Nafis saat menerima kunjungan Forum Jurnalis Muslim (Forjim) di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Jakarta, belum lama ini.

“Bad news is a good news yang selama ini menjadi acuan, bertentangan dengan Islam, yang lebih mengacu pada good news is a good news. Disamping berita yang baik dan benar, juga membawa kebaikan,” ujar KH. Cholil.

Lebih lanjut KH. Cholil menegaskan, meskipun benar, jika tidak membawa kebaikan, tidak boleh diberitakan. Benar dan nyata, tapi tidak berimplikasi pada kebaikan, juga tak perlu diberitakan. Inilah prinsip yang berbeda dalam pemberitaan.

“Yang terjadi adalah memoles kata yang sifatnya emosional tanpa didukung oleh data. Begitu juga, membumbui fakta yang ada, hendaknya jangan terlalu over. Harus diakui, yang muncul adalah emosional keagamaan lebih membumbung tinggi ketimbang data. Hal seperti ini, kadang membuat orang tidak percaya dengan media kita.”

Awalnya, kata Cholil, kita menyajikan tulisan yg baik, misinya ingin menghancurkan lawan yang membuat kemungkaran. Tujuannya bagus, amar ma’ruf nahi mungkar, tapi kecenderungan emosional justru melebihi dari dosisnya. Akibatnya, menimbulkan ketidak percayaan kepada medianya, itu sering yang kita lihat.

“Jika bersumber dari data yang ada, diselipkan analisis sekedarnya, dan disertai bumbu dan kemasannya yang lebih manis, jujur dan benar, itu lebih baik,” tandasnya.

Terkadang, lanjut Cholil, semangatnya terlalu tinggi, membuat pemberitaan menjadi kontra produktif. Ada juga, media yang sudah mendapat kepercayaan, malah dikerjai oleh “orang luar”, dengan menggunakan nama media yang mirip. Seperti nama medianya yang menggunakan dotnet diubah jadi dotcom. Padahal itu domain milik musuh yang dibuat samar, seperti perang gerilyawan.

Dalam kesempatan itu, Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI menyambut baik kehadiran Forum Jurnalis Muslim (Forjim), sebuah sebuah komunitas independen yang terdiri dari pewarta atau jurnalis muslim dari berbagai lintas media yang memiliki spirit Islam, visi dan misi yang sama.

“Saya rasa asosiasi jurnalis muslim itu penting, tidak terbatas medianya yang Islam, tapi juga jurnalis muslim yang bekerja di media maenstrem, pun bisa diajak bareng.Visinya bisa sama, tapi cara penyajian atau pemberitaannya berbeda,” support KH. Cholil. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *