Home / SIARAN PERS / Kronologis Insiden 4 November Versi Resmi GNPF-MUI

Kronologis Insiden 4 November Versi Resmi GNPF-MUI

gnpf-3
Konferensi Pers GNPF-MUI di Resto Pulau Dua, Senayan, Jakarta Selatan (5/11)

JAKARTA (forjim) – Aksi Bela Islam II pada 4 November 2016 berlangsung damai meski disusupi oleh provokator yang kecewa jika berlangsung damai. Lautan manusia yang menyesaki jalan-jalan protokol di jantung Ibukota, terutama di sekitar Bunderan HI, Tugu Tani, Masjid Istiqlal, Patung Kuda hingga di depan Istana, semuanya terkendali.

Meski hasil perundingan oleh perwakilan aksi yang dikomandoi pimpinan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) KH. Bachtiar Nasir tidak memuaskan karena Presiden RI Joko Widodo tidak bersedia menerima dan tidak beraa di Istana, peserta aksi bisa menahan diri dan tetap berada dalam koridor dan Komando Aksi Damai.

Besarnya jumlah massa yang ikut aksi tuntutan hukum dan dipenjarakannya pelaku penodaan agama Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahya Purnama alias Ahok menjadi syiar Islam, bahwa umat Islam di Indonesia bersatu untuk kebaikan bangsa dan negara melalui Jihad Konstitusi.

Mengenai insiden penembakan gas airmata dan peluru karet di depan istana, tidak bisa terhindarkan dan akhirnya massa beralih ke depan Gedung DPR/MPR dengan tertib. Para habaib dan ulama saat itu masih berada di atas panggung orasi dan terkena gas airmata.

Secara hukum, aksi damai ini masih sesuai koridor hukum berdasarkan UU No. 9/1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Aksi ini juga tidak melanggar Peraturan Kapolri mengenai batas waktu penyampaian pendapat di depan umum pada pukul 18.00, karena proses negosiasi antara perwakilan peserta aksi oleh KH. Arifin Ilham masing berlangsung dengan diterimanya oleh Menko Polhukam Wiranto. Namun, tiba-tiba terjadi aksi provokasi oleh pria berbaju batik dan kaos putih hitam disertai penembakan gas airmata.

Kronologis Insiden

Berikut ini Kronologi Kejadian Aksi Bela Islam II pada 4 November 2016 versi resmi dari GNPF-MUI sebagai berikut:

1. Pukul 10.00 WIB pagi, GNPF memberikan pengarahan terbatas kepada pengendali barisan aksi dan para orator dengan pesan yang kuat bahwa ini adalah Aksi Damai dan harus menunjukkan akhlakul karimah.

2. Pukul 11.00 pagi, pimpinan GNPF bersama ulama menetapkan kesepakatan target aksi damai yang akan diperjuangkan kepasa Presiden Jokowi.

3. Usai shalat JUmat di Masjid Istiqlal semua peserta barisan aksi melakukan longmarch menuju istana sesuai rute yang telah ditetapkan. Orasi di depan Istana baru dimulai ba’da Asyar.

4. Pelaksanaan orasi berjalan lancar dengan orator bergantian dari berbagai elemen dipimpin langsung oleh Habib Rizieq Syihab sebagai pembina GNPF MUI.

5. Perundingan pertama mengutus 2 orang Juru Runding GNPF MUI, yaitu: KH. Bachtiar Nasir, dan KH. M. Zaitun Rasmin untuk mendatangi istana. Hasilnya, Juru Runding menolak melakukan perundingan karena hanya akan ditemui oleh Menko Polhukam dan beberapa menteri sebagai utusan resmi Presiden RI.

6. Juru Runding mendatangi Istana untuk kedua kalinya, namun kemudian mereka tetap menolak untuk berunding, karena istana tetap menawarkan Menko Polhukam dan petinggi lainnya, sehingga Juru Runding kembali kepada barisan aksi.

7. Selanjutnya, Pangdam Jaya dan Kapolda Metro Jaya berinisiatif mendatangi mobil barisan aksi, kemudian naik ke atas dan memberi salam hormat kepada peserta aksi. Kedatangan mereka untuk menemui Habib Rizieq Syihab dan menawarkan agar Juru Runding bisa diterima oleh Wapres RI. Habib Rizieq bersedia memenuhi penawaran tersebut dengan jaminan agar Wapres bersedia memerintahkan Kapolri untuk menangkap BTP hari itu juga.

8. Kemudian Juru Runding mendatangi Istana untuk ketigakalinya. Kali ini Juru Runding diikuti juga oleh KH. Misbahul Anam. Juru Runding ditemui Wapres RI dan petinggi lainnya. Perundingan berjalan alot. Hasilnya Wapres RI memberikan jaminan akan memproses hukum BTP secara cepat, tegas dan transparan serta minta waktu selama dua minggu untuk merealisasikannya.

9. Juru Runding kembali ke barisan aksi untuk menyampaikan hasil perundingan. Perundingan terakhir itu baru selesai pukul 18.00 WIB. Setelah disampaikan, rekasi para peserta aksi tidak bisa menerima hasil tersebuy dan bersepakay untuk bermalam di depan Istana Negara.

10. KH Arifin Ilham dengan inisiatif sendiri berusaha bernegosiasi langsung menemui Wapres RI.

11. Kericuhan kecil sebenarnya sudah mulai terjadi sebelum rombongan mobil komando tiba, antara massa yang ‘terprovokasi’ dengan barikade polisi. Agar tidak terjadi bentrok, maka Laskar FPI menjadi pagar pembatas antara massa tersebut dengan barikade polisi.

Tak lama setelah adzan isya berkumandang, petugas keamanan secara tiba-tiba melakukan tindakan fisik merangsek dan mendorong untuk membubarkan barisan aksi secara paksa dengan menembakkan gas airmata dan peluru karet.
KH. Arifin Ilham yang masih berada di Istana bersaksi bahwa Wapres RI, Menko Polhukam, dan Kapolri memberikan reaksi marah atas kecerobohan petugas keamanan tersebut.

12. Berkali-kali Kapolri dan Panglima TNI memerintahkan aparat untuk berhenti menembak massa lewat pengeras suara, namun tak digubris oleh pasukan polisi, bahkan pasukan motor polisi berputar-putar di kerumunan massa, sehingga ada yang tertabrak dan tergilas.

13. Kejadian tersebut telah memakan 1 korban meninggal dunia atas nama Bapak Syahrie Oemar (65 tahun), warga Curug, Tangerang, Banten. Puluhan korban luka-luka akibat tembakan peluru karet, tertabrak motor polisi dan gas airmata.

14. Barisan Aksi Islam II akhirnya bergerak menginap di pagar luar Gedung MPR/DPR. Pada pukul 03.00 dinihari delegasi GNPF diterima oleh Ketua MPR RI, Ketua dan Anggota Komisi III DPR, dan Ketua MKD DPR RI, setelah beberapa kali berunding. Keamanan Gedung MPR/DPR diambil alih oleh Panglima TNI dan Kapolri yang akan menggusur massa yang menginap di luar pagar Gedung MPR/DPR RI.

15. Komisi III DPR kemudian memberikan jaminan akan menekan pemerintah pusat untuk memenuhi janjinya di depan massa Aksi Damai.

16. Pada pukul 04.05 tanggal 5 November 2015, secara resmi GNPF MUI membubarkan Aksi Bela Islam II yang ditutup oleh Ketua GNPF MUI Ustadz Bachtiar Nasir.

Alhamdulillah aksi damai berlangsung dengan maksimal, meski ditekan, ditembak, dipukuli, tapi kita bersabar dan tidak membalas, tidak melawan, karena niat awal adalah aksi damai.

Pembina GNPF MUI Habib Rizieq Syihab menegaskan, “Sebenarnya kita bisa saja melawan, perang, tapi kita ini aksi damai, kita tidak bisa diadu domba melawan Polisi dan TNI, mereka saudara kita juga, kita fokus pada kasus penisataan Al Qur’an oleh Ahok.”

Jargon Aksi Damai kami ketika dibenturkan dengan aparat keamanan adalah “Melawan dengan tanpa melakukan perlawanan”. Meskipun dalam tekanan yang sangat represif, komando kami hanyalah: “Jangan Melawan!, “Diam di Tempat!”, “Jangan Maju”.

Ingatlah Allah Swt senantiasa menjaga kesucian Al Qur’an dan jangan ada yang menistakannya.
Jakarta, 5 November 2016

Pimpinan GNPF-MUI

Habib Rizieq Syihab (Pembina)
KH.Bachtiar Nasir (ketua)
KH.Misbahul Anam (Wakil Ketua)
KH.Muhammad Zaitun Rasmin (Wakil Ketua)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *