Home / TRENDING TOPIC / Jurnalis Muslim Tak Cukup Memberitakan, Tapi Menuntun Kebenaran

Jurnalis Muslim Tak Cukup Memberitakan, Tapi Menuntun Kebenaran

JAKARTA (forjim) – Penyajian media Islam hendaknya, tidak hanya mencakup aspek politik, tapi juga aspek sosial dan budaya. Jika hanya dijejali politik, publik akan jenuh. Terpenting, bagaimana menyajikan tulisan kepada segmen yang lebih luas, dari orang yang semula phobia terhadap Islam, menjadi lebih Islamis.

“Berita atau tulisan itu perlu diramu sedemikian rupa agar bisa menyadarkan. Menyampaikannya pun harus lebih rileks. Saat ini mau cari berita apa saja ada, yang belum ada adalah yang menuntun kebanaran,” kata Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Cholil Nafis kepada Forum Jurnalis Muslim (Forjim) di Jakarta, belum lama ini.

Dikatakan KH. Cholil, saat ada sebagian masyarakat yang mulai antipati dan enggan menonton berita di televisi, karena sudah merasa bahwa yang disajikan menjadi bagian dari propaganda politik sang pemiliknya. Publik ingin berita yang proporsional, inspiratif , bisa dipercaya, dan tuntunan atau membimbing.

“Media Islam tak harus menyajikan dengan dalil-dalil tertentu, karena orang bisa meng-Goegling apa yang dibutuhkan. Kalau dulu orang kelasnya mencari sesuatu yang sifatnya informatif atau referensi, sekarang kelasn sudah memilah dan memilih. Publik butuh berita yang seimbang (balance).”

Jurnalis muslim diharapkan menyajikan tulisan yang lebih cerdas dan inspiratif, sehingga ketika memberitakan sesuatu ada aspek knowledge yang diberikan kepada publik, baik itu aspek politik ekonomi, sosial dan budaya.

“Komisi Dakwah mengucapkan terimakasih kepada Forjim yang telah mendukung sikap dan pendapat keagamaan MUI. Perannya sebagai ulama, MUI ingin menjawab keraguan dan ketidakjelasan hukum Islam ditengah-tengah masyarakat. MUI hanya bekerja sesuai dengan kewenangannya, di luar itu bukan wewenang MUI.”

KH. Cholil sekali lagi menyatakan dukungannya kepada Forjim. Pesan pentingnya, kita butuh berjamaah, bukan hanya berjamaah dalam shalat, tapi juga dalam dakwah, tak terkecuali dalam berpolitik, ekonomi, bahkan jurnalis muslim pun perlu berjamaah. Sehingga berita yang disampaikan, bukan hanya fakta, tapi juga membawa maslahah (kebaikan).

“Namanya berjamaah, ada imam dan makmumya. Jika imamnya salah, bisa diluruskan makmum. Dan, kalau makmumnya kurang benar, bisa mengikuti imam yang benar. Imam shalat pun demikian, ditegor ketika tidak benar. Ketika makmumnya kurang tahu bisa ditutupi dengan pengetahuan imam itu.” [b-01]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *